praktikum 1
PRATIKUM 1
PERILAKU KETIDAK PERDULIAN MASYARAKAT DALAM
MENGKONSUMSI MAKANAN YANG BERSIH, SEHAT
DAN BERGIZI
Disusun Oleh
Hendri Gunawan
E11112005

Dosen Pembimbing
Dr.Rupita, M. kes
NIP.196509101990022001
PROGRAM STUDI ILMU SOSIATRI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2014
HALAMAN PENGESAHAN
PRATIKUM 1
OLEH :
HENDRI GUNAWAN
NIM. E11112005
DOSEN PEMBIMBING PRATIKUM 1
Dr. Rupita, M. kes
NIP.196509101990022001
JURUSAN SOSIOLOGI
PROGRAM STUDI ILMU SOSIATRI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2014
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadiran Allah swt,
karena berkat limpahan rahmat dan karunia-nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan pratikum I ini tepat pada waktunya. Adapun tema yang digunakan
dalam penulisan pratikum I adalah tentang mata kuliah’’masalah kesehatan
masyarakat’’ dalam proses penyelesaian pratikum I ini, penulis
banyak
mendapat bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena
itu penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada dosen
pembimbing pratikum I, orang tua dan keluarga,
pihak perpustakaan FISIP
UNTAN, pihak perpustakaan daerah kota Pontianak, para senior dan rekan-rekan
mahasiswa angkatan 2012 khususnya prodi sosiatri atas bimbingan, do’a, motivasi
dan saran-saran yang telah diberikan kepada penulis selama ini. Akhir kata
semoga tulisan ini bermanfaat bagi semua kalangan, penulis mengharapkan kritik
maupun saran yang membangun agar dapat memperbaiki segala bentuk kekurangan
yang ada dalam penulisan pratikum I ini.
Pontianak, Desember
2014 Penulis
Hendri Gunawan
E11112005
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR …………………………………………. i
DAFTAR ISI ………………………………………………… ii
BAB I :
GAMBARAN UMUM MATA KULIAH ………………….... 1
BAB II :
TEORI/KONSEP UTAMA YANG BERKAITAN DENGAN MATA KULIAH……………………………………………............. 3
1. Konsep pokok ………………………………………. 3
1.1.
Konsep perilaku…………………………….... 3
1.2.
Konsep perilaku hidup bersih dan sehat……... 4
1.2.1. Strategi perilaku hidup bersih dan sehat…… 4
2. Teori perilaku dan perubahan perilaku kesehatan….. 7
2.1.
Teori-teori perilaku…………………………... 7
2.2.
Teori-teori perubahan perilaku kesehatan….... 8
BAB III :
APLIKASI SALAH SATU TEORI………........…………........ 10
BAB IV :
KESIMPULAN………………………………...…................... 13
DAFTAR FUSTAKA………………………………………………….. 15
BAB I
GAMBARAN UMUM MATA KULIAH
Masalah kesehatan
masyarakat, terutama di Negara-negara berkembang, pada dasarnya menyangkut dua
aspek utama. Yang pertama ialah aspek fisik, seperti misalnya tersedia sarana
kesehatan dan pengobatan penyakit, sedangkan yang kedua adalah asfek non-fisik
yang menyangkut perilaku kesehatan . factor perilaku ini mempunyai pengaruh
yang besar terhadap status kesehatan individu maupun masyarakat.
Sebagai
cabang ilmu kedokteran mengenai kesehatan masyarakat, pembahasannya hanya mencakup
aspek pencegahan, peningkatan kesehatan umumnya, pemulihan kesehatan fisik dan
mental serta sosial di masyarakat.
Dengan
demikian masalah kesehatan masyarakat membahas keadaan/ kejadian (fenomena) dari berbagai segi
kehidupan sosial individu ataupun masyarakat yang ada kaitannya dengan
kesehatan individu/masyarakat yang bersangkutan.
Pembahasan
ilmu kesehatan lebih luas dari pada pembahasan ilmu kedokteran, kesehatan
mencakup kebutuhan pokok dari kehidupan individu/masyarakat. Untuk memenuhi kebutuhan pokok tersebut , upaya ke
arah itu dipengaruhi oleh banyak factor sosial (WHO). Sehingga untuk mencapai
keadaan “sehat’’ tersebut, banyak unsur kesejahteraan lainnya ikut
berpengaruh.
Menurut
sejarah perkembangannya, ilmu kesehatan bermula dari cara pemeliharaan
kesehatan/pengobatan yang berdasarkan kepercayaan bahwa “penyakit adalah kutukan dari tuhan yang
maha Esa’’. Pada tahap
permulaan ini, pengobatan juga berdasarkan pemikiran primitif tersebut, yaitu
pengobatan secara kuno dan tradisional. Tahap ini disebut juga “primitif
concept’’.
Setelah penemuan ilmu
kesehatan masyarakat dengan Chadwick
sebagai pelopor, winslow melanjutkan dengan mengemukakan definisi yang
sangat rinci dari ilmu kesehatan
masyarakat. Ilmu kesehatan masyarakat adalah suatu “ilmu dan seni’’ mengenai
cara pencegahan penyakit untuk mencapai perpanjangan masa hidup dan peningkatan
kesehatan fisik dan mental secara berhasil guna melalui: pengorganisasian
potensi yang ada dalam masyarakat untuk mencapai kesehatan lingkungan,
pengendalian penyakit infeksi di masyarakat,
penyuluhan/pendidikan
perorangan tentang prinsif kesehatan pribadi, pengorganisasian pelayanan
pengobatan dan perawatan untuk diagnosis dini penyakit, pencegahan dan
pengobatan penyakit, serta pengembangan gerakan sosial yang akan mendorong
setiap individu di masyarakat memelihara kesehatan dalam setiap perilaku hidup
sehari-hari.
BAB II
TEORI/KONSEP UTAMA YANG BERKAITAN DENGAN MATA KULIAH
1.
KONSEP POKOK
Konsep yang paling mendasar
dalam ilmu-ilmu sosial dan ilmu perilaku ialah masyarakat. Dalam bab 1 telah disebutkan bahwa masyarakat
ialah sekelompok orang yang memiliki identitas sendiri dan mendiami wilayah
atau daerah tertentu, serta mengembangkan norma-norma yang harus dipatuhi oleh
para anggotanya. Berkaitan dengan masalah kesehatan masyarakat, perlu di
ketahui bahwa masyarakat tidak semuanya bisa mengerti dan mau mengerti tentang
perilaku hidup sehat yang sebenarnya.
1.1. Konsep Perilaku
Perilaku
dari segi biologis adalah merupakan suatu kegiatan atau aktivitas organisme
(makhluk hidup) yang bersangkutan, jadi perilaku manusia pada hakikatnya adalah
tindakan atau aktivitas dari manusia itu sendiri yang mempunyai bentangan yang
sangat luas antara lain: berjalan, berbicara, menangis, tertawa, bekerja,
kuliah, menulis, membaca, dan sebagainya. Bahkan kadang-kadang kegiatan manusia
itu sendiri sering tidak teramati dari luar manusia itu sendiri, misalnya:
berpikir, persepsi, emosi, dan sebagainya. Berdasarkan uraian ini dapat
disimpulkan bahwa yang dimaksud perilaku (manusia) adalah semua kegiatan atau
aktivitas manusia, baik yang dapat diamati langsung, maupun yang tidak dapat
diamati oleh pihak luar (Notoatmodjo, 2007).
1.2.
Konsep Perilaku Hidup Bersih
dan Sehat
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah bentuk
perwujudan paradigma sehat dalam budaya perorangan, keluarga, dan masyarakat
yang berorientasi sehat, bertujuan untuk meningkatkan, memelihara, dan
melindungi kesehatannya baik fisik, mental, spiritual, maupun sosial. Selain
itu juga program perilaku hidup bersih dan sehat bertujuan memberikan
pengalaman belajar atau menciptakan suatu kondisi bagi perorangan, kelompok,
keluarga, dengan membuka jalur komunikasi, informasi, dan edukasi untuk
meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku sehingga masyarakat sadar, mau, dan
mampu mempraktikkan perilaku hidup bersih dan sehat melalui pendekatan pimpinan
(advocacy), bina suasana (social support), dan pemberdayaan
masyarakat (empowerment). Dengan demikian masyarakat dapat mengenali dan
mengatasi masalahnya sendiri terutama pada tatanannya masing-masing (Depkes RI,
2002).
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat adalah sekumpulan
perilaku yang dipraktikkan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran yang
menjadikan individu/kelompok dapat menolong dirinya sendiri dalam bidang kesehatan
dan berperan aktif dalam mewujudkan derajat kesehatan masyarakat (Dinkes Jabar,
2010).
1.2.1. STRATEGI PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT
Strategi adalah
cara atau pendekatan yang dilakukan untuk mencapai tujuan PHBS. Kebijakan
Nasional Promosi Kesehatan telah menetapkan tiga strategi dasar promosi
kesehatan dan PHBS yaitu:
Gerakan
Pemberdayaan (Empowerment)
Pemberdayaan
adalah proses pemberian informasi secara terus-menerus dan berkesinambungan
mengikuti perkembangan sasaran, serta proses membantu sasaran agar sasaran
tersebut berubah dari tidak tahu menjadi tahu atau sadar (aspek knowledge), dari tahu menjadi mau (aspek attitude), dan dari mau menjadi mampu melaksanakan perilaku
yang diperkenalkan (aspek practice).
Sasaran utama dari
pemberdayaan adalah individu dan keluarga serta kelompok masyarakat. Bilamana
sasaran sudah pindah dari mau ke mampu melaksanakan boleh jadi akan terkendala
oleh dimensi ekonomi. Dalam hal ini kepada yang bersangkutan dapat diberikan
bantuan langsung, tetapi yang sering kali dipraktikkan adalah dengan
mengajaknya ke dalam proses pengorganisasian masyarakat (community organization) atau pembangunan masyarakat (community development). Untuk itu
sejumlah individu yang telah mau dihimpun dalam suatu kelompok untuk
bekerjasama memecahkan kesulitan yang dihadapi. Tidak jarang kelompok ini pun
masih juga memerlukan bantuan dari luar (misalnya dari pemerintah atau dari
dermawan). Disinilah letak pentingnya sinkronisasi promosi kesehatan dan PHBS
dengan program kesehatan yang didukungnya.
1.
Bina Suasana
(Social Support)
Bina suasana
adalah upaya menciptakan lingkungan sosial yang mendorong individu anggota
masyarakat untuk mau melakukan perilaku yang diperkenalkan. Seseorang akan
terdorong untuk mau melakukan sesuatu apabila lingkungan sosial dimanapun ia
berada (keluarga di rumah, orang-orang yang menjadi panutan/idolanya, kelompok
arisan, majelis agama, dan bahkan masyarakat umum) menyetujui atau mendukung
perilaku tersebut. Oleh karena itu, untuk mendukung proses pemberdayaan
masyarakat khususnya dalam upaya meningkatkan para individu dari fase tahu ke
fase mau, perlu dilakukan Bina Suasana. Terdapat tiga pendekatan dalam Bina
Suasana yaitu: pendekatan individu, pendekatan kelompok, dan pendekatan
masyarakat umum.
2.
Pendekatan Pimpinan
(Advocacy)
Advokasi adalah
upaya atau proses yang strategis dan terencana untuk mendapatkan komitmen dan
dukungan dari pihak-pihak yang terkait (stakeholders).
Pihak-pihak yang terkait ini bisa brupa tokoh masyarakat formal yang umumnya
berperan sebagai penentu kebijakan pemerintahan dan penyandang dana pemerintah.
Juga dapat berupa tokoh-tokoh masyarakat informal seperti tokoh agama, tokoh
pengusaha, dan yang lain yang umumnya dapat berperan sebagai penentu
“kebijakan” (tidak tertulis) dibidangnya dan atau sebagai penyandang dana non
pemerintah. Perlu disadari bahwa komitmen dan dukungan yang diupayakan melalui
advokasi jarang diperoleh dalam waktu yang singkat. Pada diri sasaran advokasi
umumnya berlangsung tahapan-tahapan yaitu:
a) mengetahui atau
menyadari adanya masalah.
b) tertarik untuk
ikut mengatasi masalah.
c) peduli terhadap
pemecahan masalah dengan mempertimbangkan berbagai alternatif pemecahan
masalah.
d) sepakat untuk
memecahkan masalah dengan memilih salah satu alternatif pemecahan masalah.
e)
memutuskan tindak lanjut kesepakatan.
2. TEORI-TEORI
PRILAKU DAN PERUBAHAN PRILAKU KESEHATAN
2.1. TEORI-TEORI PRILAKU
Teori-teori prilaku
kesehatan prilaku manusia merupakan resultan dari berbagai factor baik internal
maupun eksternal, Faktor determinan perilaku manusia luas, namun beberapa ahli
merumuskan beberapa teori terbentuknya perilaku manusia yaitu:
a. TEORI “REATION
ACTION” (FESBEIN DAN AJZEN : 1980)
Teori ini
menekankan pentingnya “intention” / niat sebagai factor penentu
perilaku, niat itu sendiri ditentukan oleh : sikap, norma subyektif,
pengendalian perilaku.
b. TEORI ABC (Sulzer,
Azaroff, Mayer: 1977)
Menurut teori ini
prilaku manusia merupakan suatu proses sekaligus hasil interaksi antara:
Antecedent, Behavior , Consequences.
- Antecedent :
trigger, bisa alamiah ataupun man made.
- Behavior :
reaksi terhadap Antecedent.
- Consequences :
bisa positif (menerima), atau negative (menolak).
c. TEORI
PRECED-PROCEED ( Lawrence Green : 1991 )
Factor penentu prilaku
kesehatan yaitu : predisposing factors, terwujud dalam pengetahuan, sikap,
kepercayaan, keyakinan, nilai enabling factors, tersedianya atau tidak
tersedianya perilaku petugas kesehatan atau dari kelompok referensi dari
perilaku masyarakat.
2.2. TEORI-TEORI
PERUBAHAN PERILAKU KESEHATAN
Menurut teori SOR ini, penyebab terjadinya perubahan prilaku tergantung
pada kualitas rangsang (stimulus) yang berkomunikasi dengan organism. Prilaku
dapat berubah hanya apabila stimulus yang diberikan benar-benar melebihi dari
stimulus semula (mampu meyakinkan) karena itu kualitas dari sumber komunikasi
sangat menentukan keberhasilan perubahan prilaku, misalnya gaya bicara,
kreadibilitas pemimpin kelompok dan sebagainya.
Teori perubahan prilaku
kesehatan ini penting dalam promosi kesehatan yang bertujuan “behavior change”
perubahan prilaku ini diarahkan untuk:
1. Mengubah perilaku
negative (tidak sehat) menjadi perilaku positif ( sesuai dengan nilai-nilai
kesehatan )
2. Pembentukan atau
pengembangan perilaku sehat
3. Memelihara
perilaku yang sudah positif
A. TEORI DISSNANCE
(FESTINGER:1957)
Ada suatu keadaan cognitive dissonance yang merupakan ketidak seimbangan
psikologis, yang di liputi ketegangan diri yang berusaha untuk mencapai
keseimbangan kembali. Disconance terjadi karena dalam diri individu terdapat
elemen kognisi yang bertentangan, pengetahuan , pendapat atau keyakinan.
Apabila terjadi penyesuaian secara cognitive, aka nada perubahan sikap yang
berujung perubahan perilaku.
B. TEORI FUNGSI (Katz
: 1960)
Menurut teori ini perilaku mempunyai pungsi :
1. Instrumental
2. Defence mechanism
3. Penerima objek dan
pemberi arti
4. Nilai ekspresif
Perubahan perilaku individu tergantung kebutuhan, stimulus yang dapat
member perubahan perilaku individu adalah stimulus yang dapat di mengerti dalam
konteks kebutuhan orang tersebut.
C.TEORI KURT LEWIN
(1970)
Menurut kurt lewin, perilaku manusia adalah suatu keadaan yang seimbang
antara driving forces (kekuatan-kekuatan pendorong) dan restrining forces
(kekuata-kekuatan penahan). Perilaku dapat berubah apabila terjadi ketidak
seimbangan antara kedua kekuatan tersebut .
BAB III
APLIKASI SALAH SATU TEORI
Konsep perilaku
hidup bersih dan sehat (PHBS)
Berdasarkan pemaparan sebelumnya mengenai teori maupun konsep yang
berkaitan dengan masalah perilaku ketidak perdulian masyarakat dalam mengkonsumsi makanan yang
bersih,sehat dan bergizi. Maka penulis akan menganalisis konsep perilaku hidup
bersih dan sehat, karena dalam konsep PHBS inilah adanya keterkaitan antara
perilaku hidup masyarakat dengan kesehat, terutama dalam hal mengkonsumsi
makanan.
Makanan besar peranannya terhadap kesehatan manusia, karena inilah
penyehatan makanan harus diterapkan dalam berbagai kalangan masyarakat demi
untuk mencapai hidup yang sehat dan lebih baik. Yang perlu diperhatikan dan
diperdulikan masyarakat dalam penyehatan makanan yaitu:
a. Nilai gizi makanan
yang mencakup kecukupan unsur-unsur makanan yang dibutuhkan bagi pertumbuhan
dan pemeliharaan kesehatan. Misalnya: cukup kalori dan mineral. Semua unsur
tersebut dalam keadaan yang seimbang baik kuantitas maupun kualitas dibutuhkan
untuk kesehatan manusia.
b. Kelebihan ataupun
kekurangan kuantitas maupun kualitas makanan, ikut mempengaruhi kesehatan
manusia, misalnya pada malnutrisi, kegemukan dan sebagainya.
c. Alergi terhadap
makanan tertentu, langsung atau tidak langsung akan mempengaruhi kesehatan.
d. Makanan karena
sesuatu sebab menghasilkan racun (toksin) yang mengganggu kesehatan.
e. Makanan yang
tercemar bahan kimia, mikroorganisme, parasit dan sebagainya.
Dari berbagai uraian sebelumnya, maka dengan konsep perilaku hidup bersih
dan sehat, dapat gambaran bahwa sebenarnya makanan perlu di perhatikan sebelum
dikonsumsi, budaya bersih akan selalu melindungi kita untuk hidup sehat, jadi
kesimpulannya mengapa masyarakat tidak mau perduli dengan pola makan yang
sehat, karena pada dasarnya sulit jika kebutuhan hanya mampu mencukupi satu
kebutuhan dan tidak mampu mencukupi kebutuhan yang lainnya, contoh kecil
perilaku hidup bersih dan sehat dalam penyehatan makanan pada masyarakat
miskin, mereka hanya mampu mencukupi kebutuhan mereka dengan sekedar makan apa
adanya, bukan bearti mereka tidak mau memilih makanan yang sehat dan bergizi,
namun mereka tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Dengan kejadian
tersebut, maka tidak diherankan lagi bahwa banyak ditemui masalah kesehatan
pada masyarakat miskin.
Karena itulah penyehatan makanan kini menjadi perhatian para petugas
kesehatan serta para ahli sehubung dengan penyehatan makanan untuk pemelihara
kesehatan.
Ditinjau dari
sudut kesehatan lingkungan, penyehatan makanan ditujukan kepada segala
kemungkinan pencemaran makanan oleh bahan-bahan, mikroorganisme, parasit dan
disebarkan oleh berbagai pembawa (karier) dan perantara (vector) penyakit.
Baik pembawa dan perantara penyakit,maupun makanan sendiri dapat berperan
sebagai factor yang menjadi perhatian dalam salah satu aspek kesehatan,sehubung
dengan penyakit yang tergolong food and milk borne disease.
BAB IV
KESIMPULAN
Masalah kesehatan masyarakat merupakan salah satu mata kuliah penting yang
harus ditempuh oleh seseorang mahasisiwa ketika di jenjang perguruan tinggi.
Kita ketahui bersama bahwa masalah kesehatan masyarakat menyangkut semua
masalah yang harus kita perhatikan demi
untuk memperoleh hidup yang lebih baik. Untuk itu budaya hidup bersih dan sehat
harus di lestarikan di berbagai kalangan masyarakat.
Konsep awal yang harus di lakukan adalah menjaga
kesehatan, karena dengan menjaga kita bisa mengetahui dan mempertimbangkan apa
yang layak untuk kesehatan kita sendiri.
Melalui perilaku hidup bersih dan sehat, hal utama yang perlu kita perhatikan
adalah lingkungan dan makanan yang kita konsumsi. Jelas telah dikemukan oleh
berbagai macam pandangan di bab sebelumnya, bahwa lingkungan dan makanan yang
kita konsumsi sangat berpengaruh dalam kesehatan manusia, untuk itu harus kita jaga bersama.
Konsep
perilaku hidup bersih dan sehat seharusnya sudah ada sejak kita lahir, karena
hal ini harus dibudayakan turun-temurun guna mencapai kehidupan yang sehat dimasa depan dan tidak ada lagi kata
ketidak perdulian masyarakat dalam hal kesehatan. Dengan mempelajari masalah
kesehatan masyarakat beserta beberapa konsep dan teori-teori yang berkaitan
didalamnya, diharapkan agar mahasiswa dapat turut serta memahami beberapa teori
yang telah dijabarkan oleh penulis tentang masalah kesehatan masyarakat guna
membangun generasi bersih kuat dan sehat, dan mampu memulai hidup bersih dan
sehat dari diri sendiri.