Kamis, 18 Desember 2014

perilaku ketidak perdulian masyarakat dalam mengkonsumsi makanan yang bersih, sehat dan bergizi

praktikum 1



PRATIKUM 1
PERILAKU KETIDAK PERDULIAN MASYARAKAT DALAM MENGKONSUMSI MAKANAN YANG BERSIH,  SEHAT DAN BERGIZI
Disusun Oleh
Hendri Gunawan
E11112005
Dosen Pembimbing
Dr.Rupita, M. kes
NIP.196509101990022001
PROGRAM STUDI ILMU SOSIATRI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2014

HALAMAN PENGESAHAN
PRATIKUM 1
OLEH :
HENDRI GUNAWAN
NIM. E11112005
DOSEN PEMBIMBING PRATIKUM 1
Dr. Rupita, M. kes
NIP.196509101990022001
JURUSAN SOSIOLOGI
PROGRAM STUDI ILMU SOSIATRI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2014

KATA PENGANTAR 
  Puji dan syukur penulis panjatkan kehadiran Allah swt, karena berkat limpahan rahmat dan karunia-nya sehingga penulis dapat menyelesaikan pratikum I ini tepat pada waktunya. Adapun tema yang digunakan dalam penulisan pratikum I adalah tentang mata kuliah’’masalah kesehatan masyarakat’’ dalam proses penyelesaian pratikum I ini, penulis banyak mendapat bimbingan  dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada dosen pembimbing pratikum I, orang tua dan keluarga, pihak perpustakaan FISIP UNTAN, pihak perpustakaan daerah kota Pontianak, para senior dan rekan-rekan mahasiswa angkatan 2012 khususnya prodi sosiatri atas bimbingan, do’a, motivasi dan saran-saran yang telah diberikan kepada penulis selama ini. Akhir kata semoga tulisan ini bermanfaat bagi semua kalangan, penulis mengharapkan kritik maupun saran yang membangun agar dapat memperbaiki segala bentuk kekurangan yang ada dalam penulisan pratikum I ini.
Pontianak,     Desember 2014    Penulis
        Hendri Gunawan
                       E11112005
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ………………………………………….       i
DAFTAR ISI …………………………………………………  ii
BAB I :
GAMBARAN UMUM MATA KULIAH ………………….... 1
BAB II :
TEORI/KONSEP UTAMA YANG BERKAITAN DENGAN MATA KULIAH…………………………………………….............    3
1.     Konsep pokok ……………………………………….         3
1.1.         Konsep perilaku……………………………....          3
1.2.         Konsep perilaku hidup bersih dan sehat……...        4
1.2.1.  Strategi perilaku hidup bersih dan sehat……      4
2.     Teori perilaku dan perubahan perilaku kesehatan…..        7
2.1.         Teori-teori perilaku…………………………...          7
2.2.         Teori-teori perubahan perilaku kesehatan…....         8
BAB III :
APLIKASI SALAH SATU TEORI………........…………........        10
BAB IV :
KESIMPULAN………………………………...…...................         13
DAFTAR FUSTAKA…………………………………………………..      15

BAB I
GAMBARAN UMUM MATA KULIAH
Masalah kesehatan masyarakat, terutama di Negara-negara berkembang, pada dasarnya menyangkut dua aspek utama. Yang pertama ialah aspek fisik, seperti misalnya tersedia sarana kesehatan dan pengobatan penyakit, sedangkan yang kedua adalah asfek non-fisik yang menyangkut perilaku kesehatan . factor perilaku ini mempunyai pengaruh yang besar terhadap status kesehatan individu maupun masyarakat.
Sebagai cabang ilmu kedokteran mengenai kesehatan masyarakat, pembahasannya hanya mencakup aspek pencegahan, peningkatan kesehatan umumnya, pemulihan kesehatan fisik dan mental serta sosial di masyarakat.
Dengan demikian masalah kesehatan masyarakat membahas keadaan/  kejadian (fenomena) dari berbagai segi kehidupan sosial individu ataupun masyarakat yang ada kaitannya dengan kesehatan individu/masyarakat yang bersangkutan.
Pembahasan ilmu kesehatan lebih luas dari pada pembahasan ilmu kedokteran, kesehatan mencakup kebutuhan pokok dari kehidupan individu/masyarakat. Untuk memenuhi kebutuhan pokok tersebut , upaya ke arah itu dipengaruhi oleh banyak factor sosial (WHO). Sehingga untuk mencapai keadaan “sehat’’ tersebut, banyak unsur kesejahteraan lainnya ikut berpengaruh.
Menurut sejarah perkembangannya, ilmu kesehatan bermula dari cara pemeliharaan kesehatan/pengobatan yang berdasarkan kepercayaan bahwa  “penyakit adalah kutukan dari tuhan yang maha Esa’’. Pada tahap permulaan ini, pengobatan juga berdasarkan pemikiran primitif tersebut, yaitu pengobatan secara kuno dan tradisional. Tahap ini disebut juga “primitif concept’’.
Setelah penemuan ilmu kesehatan  masyarakat dengan Chadwick sebagai pelopor, winslow melanjutkan dengan mengemukakan definisi yang sangat  rinci dari ilmu kesehatan masyarakat. Ilmu kesehatan masyarakat adalah suatu “ilmu dan seni’’ mengenai cara pencegahan penyakit untuk mencapai perpanjangan masa hidup dan peningkatan kesehatan fisik dan mental secara berhasil guna melalui: pengorganisasian potensi yang ada dalam masyarakat untuk mencapai kesehatan lingkungan, pengendalian penyakit infeksi di masyarakat, penyuluhan/pendidikan perorangan tentang prinsif kesehatan pribadi, pengorganisasian pelayanan pengobatan dan perawatan untuk diagnosis dini penyakit, pencegahan dan pengobatan penyakit, serta pengembangan gerakan sosial yang akan mendorong setiap individu di masyarakat memelihara kesehatan dalam setiap perilaku hidup sehari-hari.
BAB II
TEORI/KONSEP UTAMA YANG BERKAITAN DENGAN MATA KULIAH
1.    KONSEP POKOK
Konsep yang paling mendasar dalam ilmu-ilmu sosial dan ilmu perilaku ialah masyarakat.  Dalam bab 1 telah disebutkan bahwa masyarakat ialah sekelompok orang yang memiliki identitas sendiri dan mendiami wilayah atau daerah tertentu, serta mengembangkan norma-norma yang harus dipatuhi oleh para anggotanya. Berkaitan dengan masalah kesehatan masyarakat, perlu di ketahui bahwa masyarakat tidak semuanya bisa mengerti dan mau mengerti tentang perilaku hidup sehat yang sebenarnya.
1.1.  Konsep Perilaku
Perilaku dari segi biologis adalah merupakan suatu kegiatan atau aktivitas organisme (makhluk hidup) yang bersangkutan, jadi perilaku manusia pada hakikatnya adalah tindakan atau aktivitas dari manusia itu sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas antara lain: berjalan, berbicara, menangis, tertawa, bekerja, kuliah, menulis, membaca, dan sebagainya. Bahkan kadang-kadang kegiatan manusia itu sendiri sering tidak teramati dari luar manusia itu sendiri, misalnya: berpikir, persepsi, emosi, dan sebagainya. Berdasarkan uraian ini dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud perilaku (manusia) adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang dapat diamati langsung, maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar (Notoatmodjo, 2007).
1.2.  Konsep Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
          Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah bentuk perwujudan paradigma sehat dalam budaya perorangan, keluarga, dan masyarakat yang berorientasi sehat, bertujuan untuk meningkatkan, memelihara, dan melindungi kesehatannya baik fisik, mental, spiritual, maupun sosial. Selain itu juga program perilaku hidup bersih dan sehat bertujuan memberikan pengalaman belajar atau menciptakan suatu kondisi bagi perorangan, kelompok, keluarga, dengan membuka jalur komunikasi, informasi, dan edukasi untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku sehingga masyarakat sadar, mau, dan mampu mempraktikkan perilaku hidup bersih dan sehat melalui pendekatan pimpinan (advocacy), bina suasana (social support), dan pemberdayaan masyarakat (empowerment). Dengan demikian masyarakat dapat mengenali dan mengatasi masalahnya sendiri terutama pada tatanannya masing-masing (Depkes RI, 2002).
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat adalah sekumpulan perilaku yang dipraktikkan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran yang menjadikan individu/kelompok dapat menolong dirinya sendiri dalam bidang kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan derajat kesehatan masyarakat (Dinkes Jabar, 2010).
1.2.1.      STRATEGI PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT
Strategi adalah cara atau pendekatan yang dilakukan untuk mencapai tujuan PHBS. Kebijakan Nasional Promosi Kesehatan telah menetapkan tiga strategi dasar promosi kesehatan dan PHBS yaitu:
     Gerakan Pemberdayaan (Empowerment)
Pemberdayaan adalah proses pemberian informasi secara terus-menerus dan berkesinambungan mengikuti perkembangan sasaran, serta proses membantu sasaran agar sasaran tersebut berubah dari tidak tahu menjadi tahu atau sadar (aspek knowledge), dari tahu menjadi mau (aspek attitude), dan dari mau menjadi mampu melaksanakan perilaku yang diperkenalkan (aspek practice).
Sasaran utama dari pemberdayaan adalah individu dan keluarga serta kelompok masyarakat. Bilamana sasaran sudah pindah dari mau ke mampu melaksanakan boleh jadi akan terkendala oleh dimensi ekonomi. Dalam hal ini kepada yang bersangkutan dapat diberikan bantuan langsung, tetapi yang sering kali dipraktikkan adalah dengan mengajaknya ke dalam proses pengorganisasian masyarakat (community organization) atau pembangunan masyarakat (community development). Untuk itu sejumlah individu yang telah mau dihimpun dalam suatu kelompok untuk bekerjasama memecahkan kesulitan yang dihadapi. Tidak jarang kelompok ini pun masih juga memerlukan bantuan dari luar (misalnya dari pemerintah atau dari dermawan). Disinilah letak pentingnya sinkronisasi promosi kesehatan dan PHBS dengan program kesehatan yang didukungnya.
1.            Bina Suasana (Social Support)
Bina suasana adalah upaya menciptakan lingkungan sosial yang mendorong individu anggota masyarakat untuk mau melakukan perilaku yang diperkenalkan. Seseorang akan terdorong untuk mau melakukan sesuatu apabila lingkungan sosial dimanapun ia berada (keluarga di rumah, orang-orang yang menjadi panutan/idolanya, kelompok arisan, majelis agama, dan bahkan masyarakat umum) menyetujui atau mendukung perilaku tersebut. Oleh karena itu, untuk mendukung proses pemberdayaan masyarakat khususnya dalam upaya meningkatkan para individu dari fase tahu ke fase mau, perlu dilakukan Bina Suasana. Terdapat tiga pendekatan dalam Bina Suasana yaitu: pendekatan individu, pendekatan kelompok, dan pendekatan masyarakat umum.
2.            Pendekatan Pimpinan (Advocacy)
Advokasi adalah upaya atau proses yang strategis dan terencana untuk mendapatkan komitmen dan dukungan dari pihak-pihak yang terkait (stakeholders). Pihak-pihak yang terkait ini bisa brupa tokoh masyarakat formal yang umumnya berperan sebagai penentu kebijakan pemerintahan dan penyandang dana pemerintah. Juga dapat berupa tokoh-tokoh masyarakat informal seperti tokoh agama, tokoh pengusaha, dan yang lain yang umumnya dapat berperan sebagai penentu “kebijakan” (tidak tertulis) dibidangnya dan atau sebagai penyandang dana non pemerintah. Perlu disadari bahwa komitmen dan dukungan yang diupayakan melalui advokasi jarang diperoleh dalam waktu yang singkat. Pada diri sasaran advokasi umumnya berlangsung tahapan-tahapan yaitu:
a)      mengetahui atau menyadari adanya masalah.
b)      tertarik untuk ikut mengatasi masalah.
c)      peduli terhadap pemecahan masalah dengan mempertimbangkan berbagai alternatif pemecahan masalah.
d)     sepakat untuk memecahkan masalah dengan memilih salah satu alternatif pemecahan masalah.
e)      memutuskan tindak lanjut kesepakatan.
2. TEORI-TEORI PRILAKU DAN PERUBAHAN PRILAKU KESEHATAN
2.1. TEORI-TEORI PRILAKU
Teori-teori prilaku kesehatan prilaku manusia merupakan resultan dari berbagai factor baik internal maupun eksternal, Faktor determinan perilaku manusia luas, namun beberapa ahli merumuskan beberapa teori terbentuknya perilaku manusia yaitu:
a.      TEORI “REATION ACTION” (FESBEIN DAN AJZEN : 1980)
Teori ini menekankan pentingnya “intention” / niat sebagai factor penentu perilaku, niat itu sendiri ditentukan oleh : sikap, norma subyektif, pengendalian perilaku.
b.      TEORI ABC (Sulzer, Azaroff, Mayer: 1977)
Menurut teori ini prilaku manusia merupakan suatu proses sekaligus hasil interaksi antara: Antecedent, Behavior , Consequences.
- Antecedent : trigger, bisa alamiah ataupun man made.
- Behavior : reaksi terhadap Antecedent.
- Consequences : bisa positif (menerima), atau negative (menolak).
c.       TEORI PRECED-PROCEED ( Lawrence Green : 1991 )
Factor penentu prilaku kesehatan yaitu : predisposing factors, terwujud dalam pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai enabling factors, tersedianya atau tidak tersedianya perilaku petugas kesehatan atau dari kelompok referensi dari perilaku masyarakat.
2.2. TEORI-TEORI PERUBAHAN PERILAKU KESEHATAN
Menurut teori SOR ini, penyebab terjadinya perubahan prilaku tergantung pada kualitas rangsang (stimulus) yang berkomunikasi dengan organism. Prilaku dapat berubah hanya apabila stimulus yang diberikan benar-benar melebihi dari stimulus semula (mampu meyakinkan) karena itu kualitas dari sumber komunikasi sangat menentukan keberhasilan perubahan prilaku, misalnya gaya bicara, kreadibilitas pemimpin kelompok dan sebagainya.
Teori perubahan prilaku kesehatan ini penting dalam promosi kesehatan yang bertujuan “behavior change” perubahan prilaku ini diarahkan untuk:
1.    Mengubah perilaku negative (tidak sehat) menjadi perilaku positif ( sesuai dengan nilai-nilai kesehatan )
2.    Pembentukan atau pengembangan perilaku sehat
3.    Memelihara perilaku yang sudah positif
A.  TEORI DISSNANCE (FESTINGER:1957)
            Ada suatu keadaan cognitive dissonance yang merupakan ketidak seimbangan psikologis, yang di liputi ketegangan diri yang berusaha untuk mencapai keseimbangan kembali. Disconance terjadi karena dalam diri individu terdapat elemen kognisi yang bertentangan, pengetahuan , pendapat atau keyakinan. Apabila terjadi penyesuaian secara cognitive, aka nada perubahan sikap yang berujung perubahan perilaku.
B.  TEORI FUNGSI (Katz : 1960)
Menurut teori ini perilaku mempunyai pungsi :
1.    Instrumental
2.    Defence mechanism
3.    Penerima objek dan pemberi arti
4.    Nilai ekspresif
            Perubahan perilaku individu tergantung kebutuhan, stimulus yang dapat member perubahan perilaku individu adalah stimulus yang dapat di mengerti dalam konteks kebutuhan orang tersebut.
C.TEORI KURT LEWIN (1970)
Menurut kurt lewin, perilaku manusia adalah suatu keadaan yang seimbang antara driving forces (kekuatan-kekuatan pendorong) dan restrining forces (kekuata-kekuatan penahan). Perilaku dapat berubah apabila terjadi ketidak seimbangan antara kedua kekuatan tersebut .
BAB III
APLIKASI SALAH SATU TEORI
Konsep perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS)
Berdasarkan pemaparan sebelumnya mengenai teori maupun konsep yang berkaitan dengan masalah perilaku ketidak perdulian  masyarakat dalam mengkonsumsi makanan yang bersih,sehat dan bergizi. Maka penulis akan menganalisis konsep perilaku hidup bersih dan sehat, karena dalam konsep PHBS inilah adanya keterkaitan antara perilaku hidup masyarakat dengan kesehat, terutama dalam hal mengkonsumsi makanan.
Makanan besar peranannya terhadap kesehatan manusia, karena inilah penyehatan makanan harus diterapkan dalam berbagai kalangan masyarakat demi untuk mencapai hidup yang sehat dan lebih baik. Yang perlu diperhatikan dan diperdulikan masyarakat dalam penyehatan makanan yaitu:
a.       Nilai gizi makanan yang mencakup kecukupan unsur-unsur makanan yang dibutuhkan bagi pertumbuhan dan pemeliharaan kesehatan. Misalnya: cukup kalori dan mineral. Semua unsur tersebut dalam keadaan yang seimbang baik kuantitas maupun kualitas dibutuhkan untuk kesehatan manusia.
b.      Kelebihan ataupun kekurangan kuantitas maupun kualitas makanan, ikut mempengaruhi kesehatan manusia, misalnya pada malnutrisi, kegemukan dan sebagainya.
c.       Alergi terhadap makanan tertentu, langsung atau tidak langsung akan mempengaruhi kesehatan.
d.      Makanan karena sesuatu sebab menghasilkan racun (toksin) yang mengganggu kesehatan.
e.       Makanan yang tercemar bahan kimia, mikroorganisme, parasit dan sebagainya.
Dari berbagai uraian sebelumnya, maka dengan konsep perilaku hidup bersih dan sehat, dapat gambaran bahwa sebenarnya makanan perlu di perhatikan sebelum dikonsumsi, budaya bersih akan selalu melindungi kita untuk hidup sehat, jadi kesimpulannya mengapa masyarakat tidak mau perduli dengan pola makan yang sehat, karena pada dasarnya sulit jika kebutuhan hanya mampu mencukupi satu kebutuhan dan tidak mampu mencukupi kebutuhan yang lainnya, contoh kecil perilaku hidup bersih dan sehat dalam penyehatan makanan pada masyarakat miskin, mereka hanya mampu mencukupi kebutuhan mereka dengan sekedar makan apa adanya, bukan bearti mereka tidak mau memilih makanan yang sehat dan bergizi, namun mereka tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Dengan kejadian tersebut, maka tidak diherankan lagi bahwa banyak ditemui masalah kesehatan pada masyarakat miskin.
Karena itulah penyehatan makanan kini menjadi perhatian para petugas kesehatan serta para ahli sehubung dengan penyehatan makanan untuk pemelihara kesehatan.
Ditinjau dari sudut kesehatan lingkungan, penyehatan makanan ditujukan kepada segala kemungkinan pencemaran makanan oleh bahan-bahan, mikroorganisme, parasit dan disebarkan oleh berbagai pembawa (karier) dan perantara (vector) penyakit. Baik pembawa dan perantara penyakit,maupun makanan sendiri dapat berperan sebagai factor yang menjadi perhatian dalam salah satu aspek kesehatan,sehubung dengan penyakit yang tergolong food and milk borne disease.
BAB IV
KESIMPULAN
Masalah kesehatan masyarakat merupakan salah satu mata kuliah penting yang harus ditempuh oleh seseorang mahasisiwa ketika di jenjang perguruan tinggi. Kita ketahui bersama bahwa masalah kesehatan masyarakat menyangkut semua masalah yang  harus kita perhatikan demi untuk memperoleh hidup yang lebih baik. Untuk itu budaya hidup bersih dan sehat harus di lestarikan di berbagai kalangan masyarakat.
Konsep awal yang harus di lakukan adalah menjaga kesehatan, karena dengan menjaga kita bisa mengetahui dan mempertimbangkan apa yang  layak untuk kesehatan kita sendiri. Melalui perilaku hidup bersih dan sehat, hal utama yang perlu kita perhatikan adalah lingkungan dan makanan yang kita konsumsi. Jelas telah dikemukan oleh berbagai macam pandangan di bab sebelumnya, bahwa lingkungan dan makanan yang kita konsumsi sangat berpengaruh dalam kesehatan  manusia, untuk itu harus kita jaga bersama.
Konsep perilaku hidup bersih dan sehat seharusnya sudah ada sejak kita lahir, karena hal ini harus dibudayakan turun-temurun guna mencapai kehidupan yang  sehat dimasa depan dan tidak ada lagi kata ketidak perdulian masyarakat dalam hal kesehatan. Dengan mempelajari masalah kesehatan masyarakat beserta beberapa konsep dan teori-teori yang berkaitan didalamnya, diharapkan agar mahasiswa dapat turut serta memahami beberapa teori yang telah dijabarkan oleh penulis tentang masalah kesehatan masyarakat guna membangun generasi bersih kuat dan sehat, dan mampu memulai hidup bersih dan sehat dari diri sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar